KABARBALI.ID – Umat Hindu di seluruh Bali hari ini merayakan Hari Suci Tilem Jiyestha, Sabtu (16/5/2026). Hari suci yang datang setiap 30 hari sekali pada waktu bulan mati (Krsna Paksa) ini menjadi momen krusial bagi umat untuk melakukan pembersihan spiritual secara total, baik lahir maupun batin.
Secara khusus, Tilem Jiyestha merupakan peringatan bulan mati yang jatuh pada bulan kesebelas (Sasih Jiyestha) dalam penanggalan tradisional Bali. Momen ini disakralkan sebagai waktu transisi yang penuh berkah untuk mengeliminasi energi negatif dalam diri manusia dan alam semesta.
Menurut teologi Hindu, saat malam tanpa cahaya bulan inilah, Sanghyang Surya dipercaya tengah melaksanakan yoga khusus demi memohonkan keselamatan bagi seluruh isi bumi kepada Hyang Widhi Wasa.
“Tilem Jiyestha adalah waktu kontemplasi terbaik di tengah kegelapan malam. Pada momen ini, umat Hindu melaksanakan puja bhakti secara khusyuk untuk memohon anugerah-Nya. Tujuannya jelas, agar memunculkan kembali jiwa yang bersih, yang diliputi oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan yang suci pula,”.
Bagi masyarakat Hindu di Bali, perayaan Tilem Jiyestha diisi dengan serangkaian kegiatan keagamaan yang berfokus pada pengendalian diri dan penyucian. Berikut adalah lima poin utama pelaksanaan Tilem Jiyestha:
Waktu Penyucian Diri: Menjadi wadah bagi umat untuk mengikis pengaruh buruk (mala) di dalam diri serta melebur tumpukan dosa lewat pembersihan rohani.
Pemujaan Bhatara Surya: Tilem diyakini sebagai waktu payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Surya, sang saksi agung dunia.
Persembahyangan Khusyuk: Pelaksanaan sembahyang bersama dilakukan di Merajan (sanggah) keluarga, Padmasana tempat kerja, hingga Pura Kahyangan Tiga di desa adat masing-masing.
Ritual Melukat: Pembersihan spiritual secara fisik dan non-fisik yang dilakukan di tempat rekreasi spiritual atau sumber air suci seperti pantai, sungai (campuhan), maupun pancoran suci.
Waktu Kontemplasi: Menenangkan riak-riak pikiran, mengheningkan cipta, dan meningkatkan kualitas spiritualitas personal di tengah keheningan alam.
Melalui perpaduan antara ritual persembahyangan dan pembersihan air suci (melukat), Tilem Jiyestha diharapkan mampu mengembalikan keharmonisan hidup masyarakat Bali agar siap menghadapi fase bulan baru dengan pikiran yang jernih dan penuh optimisme. (Pur-Kab).