

KABARBALI.ID – Umat Hindu di Bali kembali merayakan hari suci Kajeng Kliwon Pamelastali (sering disebut pula Pamelastali). Hari suci yang datang setiap 210 hari (6 bulan) sekali ini bertepatan dengan wuku terakhir dalam kalender Bali, yaitu Wuku Watugunung, sehingga populer dijuluki sebagai hari Watugunung Runtuh.
Kajeng Kliwon Pamelastali tahun 2026 ini dilaksanakan pada Minggu (25/10/2026) yang juga bertepatan dengan purnama kelima.
Memiliki kedudukan spiritual yang amat krusial bagi krama Bali. Selain menjadi penutup siklus 30 wuku, hari ini merupakan pilar penyucian diri dan introspeksi sebelum menyambut turunnya ilmu pengetahuan suci pada Rabu Umanis Watugunung (Hari Suci Saraswati).
Secara etimologis dan filosofis, kata Pamelastali bermakna melepaskan atau memutuskan ikatan. Momentum ini menjadi simbolis spiritual untuk melepaskan ikatan sifat-sifat buruk, kegelapan pikiran (avidya), serta keakuan (ahamkara) dalam diri manusia.
Makna mendalam Watugunung Runtuh mengakar pada kisah mitologi Bali tentang tokoh Raja Watugunung. Kesombongan dan kecongkakan Watugunung akhirnya runtuh setelah ditundukkan oleh penjelmaan Dewa Wisnu dalam wujud Kurma (Kura-kura raksasa).
Runtuhnya Watugunung menjadi simbol pembelajaran bagi umat manusia bahwa kesombongan, rasa paling benar, dan ego tak terbatas (ahamkara) pada akhirnya akan hancur oleh kebenaran (dharma).
Oleh karena itu, pada hari Kajeng Kliwon Pamelastali, umat Hindu diimbau melakukan introspeksi diri (mulat sarira) guna meredam pengaruh negatif dari Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia) serta Sapta Timira (tujuh kegelapan pikiran).
Dalam tataran praktis, pelaksanaan ritual Kajeng Kliwon Pamelastali diwarnai dengan persembahan banten suci kepada Sanghyang Widhi Wasa dan manifestasi-Nya seperti Sang Hyang Durga Dewi di merajan maupun pura.
Di samping itu, umat juga menghaturkan sarana segehan di pekarangan rumah maupun jalan keluar (pemedal). Ritual pembersihan ini bertujuan untuk mengharmoniskan energi buana alit (diri manusia) dan buana agung (alam semesta) dari pengaruh negatif (bhuta kala).
Melalui pembersihan spiritual saat Watugunung Runtuh, jiwa dan pikiran umat diharapkan kembali bersih, tenang, serta siap menerima dan mengamalkan ilmu pengetahuan suci (vidya) saat puncak perayaan Hari Suci Saraswati mendatang. (Kab-Red).