DENPASAR, KABARBALI.ID – Kedaruratan tata kelola sampah di kawasan metropolitan Bali Selatan akhirnya menemui titik terang jangka panjang. Pemerintah Provinsi Bali memastikan proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya akan segera memasuki tahapan konstruksi fisik, ditandai dengan rencana groundbreaking (peletakan batu pertama) pada tanggal 8 Juli 2026 mendatang.
Mega proyek ini diproyeksikan menjadi hulu sekaligus hilir penyelesaian krisis lingkungan pasca-kelebihan kapasitas yang dialami Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Melalui sinergi lintas lembaga dan adopsi teknologi mutlak, fasilitas modern ini ditargetkan tuntas digarap dan mulai beroperasi optimal pada akhir tahun 2027.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa realisasi pembangunan PSEL ini menjadi solusi fundamental agar persoalan sampah tidak terus-menerus menjadi bom waktu yang mengancam citra pariwisata internasional Pulau Dewata. Saat ini, koridor awal berupa pengurugan lahan di atas tanah seluas sekitar 6 hektar sudah mulai bergulir.
Proyek strategis nasional ini diproses secara intensif oleh Danantara. Begitu rampung dan beroperasi pada tahun 2028, instalasi PSEL ini dirancang memiliki kapasitas raksasa yang mampu melahap dan mengolah hingga 1.200 ton sampah harian dari wilayah Denpasar dan Badung.
“Proyek PSEL untuk wilayah Denpasar dan Badung kini memasuki persiapan pembangunan. Selain mengolah sampah baru, tumpukan sampah lama di kawasan TPA Suwung juga ditargetkan ikut diselesaikan secara menyeluruh melalui proyek terintegrasi ini,” jelas Wayan Koster dalam keterangannya di Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar, Jumat (22/5/2026).
Jika tumpukan sampah lawas di TPA Suwung berhasil dilikuidasi, Pemprov Bali merencanakan langkah revitalisasi total kawasan tersebut. Eks TPA Suwung nantinya akan ditata ulang untuk disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang ramah lingkungan bagi krama kota.
Percepatan penanganan sampah hulu-hilir di Bali ini juga mendapat suntikan kekuatan dari komando teritorial militer. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, turun langsung meninjau kick-off pematangan lahan milik Pelindo di kawasan Pesanggaran, Denpasar Selatan.
Mantan Pangdam IX/Udayana ini menegaskan, TNI AD siap mengawal kebersihan Bali melalui metode pirolisis (penguraian sampah dengan suhu tinggi tanpa oksigen). Teknologi ini diklaim sangat efektif, tanpa memerlukan investasi dan subsidi APNY/APBD, ramah lingkungan, serta nihil emisi terbuka. Hasil pengolahan sampah ini nantinya berupa bahan bakar solar sebagai sumber energi terbarukan.
“TNI AD siap mendukung program pemerintah melalui karya bakti hingga program pengelolaan sampah terpadu. Yang perlu didukung pemerintah saat ini adalah kemudahan prosedur administrasi perizinan dan jaminan penjualan solar hasil pengolahan,” urai Jenderal Maruli tegas.
Akselerasi PSEL Denpasar Raya ini telah memiliki kepastian hukum yang kuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025. Regulasi ini memayungi kebijakan pengolahan sampah yang dikonversi menjadi energi listrik, BBM terbarukan, hingga bioenergi.
Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti, menyampaikan bahwa Bali secara resmi telah ditetapkan sebagai lokasi percontohan (pilot project) nasional untuk penerapan teknologi pirolisis terintegrasi ini, bersanding dengan kota-kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Bogor, dan Semarang.
“Penggunaan teknologi PSEL dan BBM terbarukan ini akan mereduksi kedaruratan sampah di Denpasar dan Badung secara signifikan. Momentum groundbreaking pada 8 Juli 2026 nanti akan menjadi tonggak integrasi pengelolaan sampah yang nyata dari hulu hingga hilir,” pungkas Nani Hendiarti optimis. (Rls-Kab)