

DENPASAR, KABARBALI.ID – Umat Hindu di Bali memegang teguh pedoman Wariga dan Padewasan (ala-ayuning dewasa) dalam menentukan hari baik serta hari yang perlu dihindari saat hendak menggelar suatu kegiatan, baik berupa pekerjaan fisik, upacara keagamaan, maupun urusan rumah tangga.
Berdasarkan penanggalan Kalender Bali, hari Kamis, 3 September 2026 bertepatan dengan unsur Pararasan Laku Surya, Pancasuda Satria Wirang, Ekajalaresi Buat Kingking, serta Pratiti Nama Rupa.
Secara umum, ala-ayuning dewasa pada hari ini dinaungi oleh beberapa keberadaan kala dan dewasa yang memiliki pengaruh positif maupun pantangan khusus bagi aktivitas sehari-hari masyarakat.
Berdasarkan pementangan wariga, terdapat beberapa pengaruh positif (dewasa hayu) yang dapat dimanfaatkan oleh warga pada hari ini:
Banyu Urug: Sangat baik dipergunakan untuk memulai pembangunan bendungan atau fasilitas pengairan. (Alahing dewasa 3).
Kala Kutila: Merupakan hari yang baik untuk memulai suatu pekerjaan yang menggunakan unsur api (seperti usaha kuliner, perbengkelan, atau pengolahan logam). (Alahing dewasa 4).
Titibuwuk: Dipercaya baik dimanfaatkan untuk sarana pengobatan medis maupun non-medis, khususnya dalam upaya menghilangkan penyakit akibat guna-guna dan sejenisnya. (Alahing dewasa 3).
Di samping hari baik, umat juga diimbau untuk memperhatikan beberapa pantangan (dewasa ala) guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan:
Kala Tampak: Tidak baik (alangan) untuk menyelenggarakan upacara pernikahan atau perkawinan (Pawiwahan). (Alahing dewasa 3).
Kala Rumpuh: Tidak disarankan untuk melangsungkan pindah rumah, serta memulai memelihara hewan ternak seperti ayam, itik, sapi, kerbau, kambing, maupun babi. (Alahing dewasa 3).
Mreta Sula: Sangat dihindari untuk menyelenggarakan berbagai jenis upacara yadnya. (Alahing dewasa 2).
Titibuwuk: Selain memiliki sisi baik untuk pengobatan, hari ini dinilai kurang baik untuk memulai suatu pekerjaan penting, melakukan perjalanan jauh (bepergian), serta membuat tangga/banggul. (Alahing dewasa 3). (Kab/Red).