Gali Inovasi ke Sleman, Wabup Klungkung Siap Adopsi Strategi Sentra Tenun Gamplong untuk Dongkrak Endek dan Songket

Wabup Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra lakukan studi banding ke Sentra Tenun ATBM Gamplong Sleman demi dongkrak inovasi Endek dan Songket Klungkung

SLEMAN, KABARBALI.ID – Komitmen Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam memproteksi sekaligus melejitkan daya saing produk kerajinan tekstil tradisional berbasis kearifan lokal terus digaspol.

Langkah konkret ini tecermin saat Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra, memimpin langsung rombongan studi banding ke Sentra Kerajinan Tenun di Desa Wisata Gamplong, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).

Kunjungan kerja taktis ini membidik misi penting: mempelajari formula sukses tata kelola, diversifikasi produk, serta strategi penetrasi pasar ekspor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tekstil berbasis Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Dalam lawatan tersebut, Wabup Tjok Surya didampingi oleh Sekda Klungkung Anak Agung Gede Lesmana serta Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Klungkung, Tjokorda Gde Romy Tanaya. Kehadiran jajaran eksekutif Bumi Serombotan ini disambut hangat oleh para pengelola desa wisata serta tokoh perajin setempat.

Kagumi Peran Lansia dan Dorong Keterlibatan Generasi Muda

Saat meninjau dapur produksi, Wabup Tjok Surya melayangkan apresiasi tinggi setelah menyaksikan langsung konsistensi para perajin Gamplong yang kokoh mempertahankan teknik tenun tradisional ATBM. Mulai dari fase pemintalan benang mentah hingga menjadi lembaran kain siap pakai, mayoritas masih digerakkan secara manual oleh tangan-tangan terampil para lansia setempat.

“Melihat dedikasi di sini, ke depannya peran generasi muda (yowana) di daerah harus kita maksimalkan dengan sebaik-baiknya untuk mengadopsi sekaligus mengembangkan potensi kerajinan warisan leluhur ini agar tidak terputus jalurnya,” tegas Wabup Tjok Surya.

Lebih lanjut, ia menganalisis adanya kemiripan tipologi potensi sosiokultural yang sangat besar antara Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Sleman, terutama di ceruk industri kreatif tenun tradisional.

“Klungkung sangat tersohor dengan mahakarya Tenun Ikat Endek dan Songketnya, sementara Sleman memiliki Tenun Gamplong yang legendaris. Hasil komparasi dari kunjungan ini harus segera diimplementasikan untuk menggeliatkan kembali sentra-sentra tenun di Klungkung, sehingga mampu menaikkan taraf kesejahteraan perajin sekaligus mendongkrak sektor pariwisata,” harapnya.

Sejarah Tenun Gamplong: Berdiri Sejak 1930, Manfaatkan Limbah hingga Tembus Ekspor

Sementara itu, Ketua Sentra Kerajinan Tenun Gamplong, Giyono, memaparkan riwayat panjang industri kreatif ini yang sejatinya telah eksis mengakar sejak tahun 1930. Uniknya, industri ini lahir dari rahim kreativitas para perajin lokal yang jeli memanfaatkan limbah sisa potongan kain perca dari sektor konveksi.

Kain perca tersebut dikumpulkan, dipotong memanjang secara presisi, lalu ditenun kembali menggunakan ATBM. Seiring lompatan inovasi, produk tenun Gamplong kini bermutasi dari yang awalnya hanya berupa keset kaki, kini menjelma menjadi aneka produk fungsional dan estetis bernilai ekonomi tinggi.

Beberapa produk turunan yang dihasilkan saat ini meliputi tas etnik, asbak, taplak meja, tirai modern, hingga komponen dekorasi interior rumah (home decor). Komoditas kreatif ini bahkan tercatat sukses menembus pasar ekspor dunia ke negara-negara di kawasan Eropa, Amerika Serikat, hingga Jepang pada akhir tahun 1990-an hingga medio 2000-an.

“Kami sangat menyambut baik kunjungan kerja dari Pemkab Klungkung. Semoga ke depan jalinan kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas serta standardisasi tenun tradisional, baik di Klungkung maupun di Sleman, dapat berjalan sinergis,” pungkas Giyono. (Sta-Kab)

kabar Lainnya