Hadapi Ancaman Kepunahan dan Faktor Usia Tanaman, Kebun Raya Bali Intensifkan Konservasi Flora Nusantara

Kebun Raya Bali mengintensifkan pembibitan dan konservasi 20.030 spesimen tanaman asli Indonesia guna menghadapi tantangan pohon menua, perubahan iklim, dan ancaman kepunahan. Rabu (14/7/2026). foto/kabarbali.id

TABANAN, KABARBALI.ID – Di balik kemegahan vegetasi hijaunya, Kebun Raya Eka Karya Bali kini menghadapi tantangan ekologis yang serius. Meski saat ini menjadi rumah bagi 20.030 spesimen tanaman dari 3.000 spesies, pihak pengelola menaruh kekhawatiran besar terhadap keberlangsungan hidup berbagai tanaman asli Indonesia akibat faktor penuaan pohon, perubahan iklim, dan serangan hama.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran tanaman koleksi bernilai ilmiah tinggi bisa mati atau tumbang sebelum sempat diperbanyak.

Plt Sekretaris Deputi (Sesdep) Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Djoko Nugroho, mengungkapkan bahwa langkah mitigasi di hulu harus bergerak cepat. Penguatan fungsi kebun botani sebagai pusat penyelamatan plasma nutfah kini menjadi prioritas utama.

“Untuk menjaga koleksi, pengelola terus melakukan pembibitan dan perbanyakan tanaman agar jumlah vegetasi tetap terjaga sesuai standar konservasi di Kebun Raya Bali,” ujar Djoko Nugroho saat menghadiri rangkaian acara di Kebun Raya Bali, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Rabu (14/7/2026).

Djoko membeberkan, beberapa spesies tanaman asli Indonesia yang saat ini habitat alaminya sudah terancam punah dan menjadi prioritas konservasi di antaranya adalah Cipadessa Baccifera (pohon rantiti jenis perdu), Chisocheton SP (tanaman tropis dari spesies mahoni-mahonian), serta Agathis Dammara atau yang akrab dikenal sebagai pohon damar.

Pohon-pohon koleksi yang dirawat di kawasan Bedugul ini bertindak sebagai replika hutan mini Nusantara, mengingat asal-usulnya yang dikumpulkan dari berbagai pulau besar di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Senada dengan hal itu, Direktur Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) BRIN, Sasa Sofyan Munawar, menegaskan bahwa upaya penyelamatan lingkungan ini tidak boleh hanya bertumpu pada pundak pengelola, melainkan harus bertransformasi menjadi kesadaran kolektif.

“Tentu kami berharap upaya konservasi dan edukasi cinta lingkungan tidak hanya menjadi milik BRIN, tetapi menjadi gerakan semua masyarakat. Kebun raya bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, melainkan seluruh pengunjung dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga kelestarian kawasan ini,” papar Sasa Sofyan.

Sebagai strategi jangka panjang, BRIN berkomitmen memperkuat fungsi riset sekaligus wisata edukasi (edutourism). Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menyempurnakan papan identitas koleksi ilmiah pada tumbuh-tumbuhan.

Ke depan, setiap pohon koleksi akan dilengkapi dengan data informasi digital yang komprehensif. Pengunjung akan dapat mengakses informasi detail mengenai asal-usul tanaman, karakteristik biologis, hingga status nilai konservasinya di alam liar, sehingga dapat memperluas wawasan mengenai kekayaan flora Nusantara. (Irw-Kab).

kabar Lainnya