KABARBALI.ID – Berdasarkan penanggalan tradisional kalender Bali, Senin, 20 Juli 2026 (Soma Kliwon) memiliki tatanan ala-ayuning dewasa atau sistem penentuan hari baik dan buruk yang sangat spesifik untuk menjadi panduan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari maupun menggelar upacara keagamaan.
Masyarakat Hindu di Bali diimbau untuk cermat memperhatikan beberapa pantangan besar (larangan) hari ini, terutama terkait pelaksanaan upacara Pitra Yadnya (kematian) dan Manusa Yadnya (pernikahan/potong gigi).
Berikut adalah rincian lengkap parameter ala-ayuning dewasa untuk Senin, 20 Juli 2026:
Amerta Dadi: Merupakan hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya (persembahan kepada manifestasi Tuhan) serta melakukan pemujaan terhadap leluhur di Pemerajan atau Pura Keluarga.
Kala Miled: Memiliki energi yang baik bagi masyarakat yang ingin meramu obat-obatan tradisional (loloh), membuat sadek, atau ramuan herbal sejenisnya.
Sri Murti: Hari yang tepat untuk mempersembahkan upacara ritual atau yadnya yang ditujukan khusus kepada Dewi Sri (Dewi Kemakmuran dan Padi) di lumbung penyimpanan.
Sri Tumpuk: Berdasarkan tradisi kuno, hari ini dianggap baik untuk aktivitas mencari atau memikat burung (mepikat).
Kaleburau & Salah Wadi: Hari ini membawa pantangan besar untuk menggelar upacara Pitra Yadnya berskala besar seperti penguburan, atiwa-tiwa (ngaben), nyekah, hingga ngasti. Energi hari ini dinilai kurang baik untuk karya ayu tersebut.
Rangda Tiga & Salah Wadi: Warga dilarang keras menggelar upacara pawiwahan (pernikahan), mapendes (potong gigi), maupun potong rambut karena masuk dalam larangan ritual Manusa Yadnya.
Uncal Balung & Kala Temah: Hari ini dinilai tidak baik (tidak dewasa ayu) untuk memulai segala jenis pekerjaan baru yang dianggap penting atau krusial bagi masa depan.
Kala Sor: Bagi para petani atau pekerja sektor agraria, hari ini tidak baik untuk melakukan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan pengolahan tanah, seperti membajak sawah, bercocok tanam, maupun membuat terowongan/saluran irigasi.
Pararasan: Aras Tuding
Pancasuda: Sumur Sinaba
Ekajalaresi: Manggih Suka
Pratiti: Nama rupa
Melalui pemetaan padewasan ini, warga disarankan untuk memprioritaskan aktivitas internal keagamaan seperti krama subak yang berkaitan dengan kemakmuran atau pemujaan leluhur di rumah, sembari menunda urusan prinsipil seperti proyek konstruksi tanah dan hajatan keluarga besar hingga mendapati hari baik berikutnya. (Kab).