DENPASAR,KABARBALI.ID – Konsistensi dalam mengawal hilirisasi produk pertanian lokal sekaligus membuka keran ekonomi kreatif bagi generasi muda terus ditunjukkan oleh DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali. Memanfaatkan momentum peringatan Bulan Bung Karno Tahun 2026, partai berlambang banteng moncong putih ini kembali menggelar Lomba Barista Kopi Bali.
Ajang yang memadukan antara presisi rasa, kekuatan aroma, dan estetika penyajian ini berpusat di Aula Kantor DPD PDI Perjuangan Bali, Denpasar, Rabu (20/5/2026).
Kompetisi ini menjadi magnet bagi puluhan barista muda, termasuk delegasi potensial yang dikirim oleh DPC PDI Perjuangan Klungkung dari berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan SMA Pariwisata.
Anak Agung Gde Utama Indra Prayoga selaku Koordinator Lomba DPC PDIP Klungkung menegaskan, penilaian dari proses awal hingga akhir diserahkan sepenuhnya secara independen dan profesional kepada tim juri, dimulai sejak pukul 09.00 WITA hingga sore hari.

“Nanti dari hasil audisi selama dua hari ini, peraih nominasi satu dan dua akan mengamankan tiket menuju babak Grand Final yang direncanakan bertempat pada 7 Juni 2026 mendatang,” papar Gung Indra.
Sementara, Koordinator Lomba Barista Kopi Bali, I Putu Candra Riantama, menjelaskan bahwa agenda tahunan ini dirancang sebagai wadah kompetisi positif untuk menaikkan kelas komoditas kopi lokal di tengah ketatnya industri hospitality Bali.
“PDI Perjuangan Bali sangat konsisten menggelar lomba barista ini setiap tahunnya. Tujuannya jelas, yakni mengembangkan potensi kopi Bali, menggerakkan roda ekonomi kreatif, serta membumikan kembali semangat kreativitas dan gotong royong di kalangan gen-Z,” ungkapnya.
Kompetisi bergengsi ini total diikuti oleh 60 peserta dari seluruh kabupaten/kota se-Bali yang mekanismenya dibagi ke dalam dua hari pelaksanaan babak audisi.
Hari Pertama: Diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Kota Denpasar (8 orang), Klungkung (6 orang), Karangasem (6 orang), dan Buleleng (8 orang).
Hari Kedua: Menampilkan talenta dari Badung (10 orang), Tabanan (8 orang), Gianyar (7 orang), Bangli (3 orang), serta Jembrana (4 orang).

Hadir langsung membakar semangat para peserta, Ketua DPC PDI Perjuangan Klungkung, Anak Agung Gde Anom (Gung Anom), menegaskan bahwa kultur ngopi saat ini telah bermutasi menjadi ruang industri baru yang sangat menjanjikan bagi masa depan anak muda Bali.
“Ini bukan sekadar lomba meracik kopi biasa. Kita ingin anak-anak muda Bali memiliki panggung formal untuk menunjukkan skill dan kreativitasnya. Jangan sampai di tengah masifnya pariwisata, anak-anak lokal kita justru hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” tegas Gung Anom.
Disebutkan, mental berkompetisi seperti ini sangat krusial untuk melatih jam terbang, membangun portofolio, serta membuka peluang kerja profesional.
Target makronya, jebolan kompetisi ini tidak hanya siap kerja, melainkan mampu menjadi wirausahawan mandiri (entrepreneur) yang membuka lapangan kerja baru bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam babak penyisihan, setiap peserta ditantang berpacu dengan waktu selama 20 menit untuk menyajikan dua cangkir cafe latte (atau cappuccino) serta satu minuman andalan (signature coffee). Proses penilaian dipelototi oleh tiga dewan juri profesional yang terdiri dari dua juri perasa (taste) dan satu juri teknis (technical).
Untuk kategori cafe latte, peserta diwajibkan mengekstraksi satu shot espresso murni dicampur fresh milk tanpa pemanis tambahan, lalu melukis pola latte art rumit seperti bentuk heart, tulip, rosetta, hingga swan. Sementara pada kategori signature coffee, kreativitas peserta benar-benar diuji lewat kewajiban memadukan espresso dengan minuman tradisional Arak Bali.
Berdasarkan keputusan dewan juri, untuk Klungkung, Pasek Kadek Ariwijaya dari Monarch Bali keluar sebagai Juara Pertama setelah sukses mengumpulkan poin tertinggi sebesar 147 poin. Posisi Juara Kedua diraih oleh I Nyoman Agus Raditya Putra (LPK Balindo Paradiso), disusul I Putu Yoga Adipratama (LPK Glory) di posisi Juara Ketiga.
Saat dikonfirmasi, Pasek Kadek Ariwijaya mengaku sangat bangga menu racikan inovatifnya yang diberi tajuk “Colonial” mampu memikat lidah para juri.
“Dalam menu Colonial ini, saya memadukan espresso dan arak Bali dengan sirup buatan rumahan (homemade), perasa buah, serta air kelapa segar. Saya sangat senang bisa ikut kompetisi ini karena menambah experience dan wawasan saya di dunia barista. Semoga wadah kreatif seperti ini makin sering diadakan,” pungkas Ariwijaya sumringah. (Sta-Kab)