Penting bagi Wisatawan dan Nelayan : Seluruh Aktivitas Laut Nusa Penida Diberhentikan 24 Jam Hari Minggu Ini

Persiapan dan susunan sarana upakara dalam rangkaian Ngusaba Madya Jagat di Pura Batumedawu. dilanjutkan dengan tradisi Nyepi Segara, Minggu (27/9/). (Foto: San / kabarbali.id)

NUSA PENIDA, KABARBALI.ID – Krama adat di Nusa Penida kembali menyelenggarakan rangkaian upacara sakral Ngusaba Madya Jagat  di Pura Batumedawu, Kabupaten Klungkung.

Tahun ini, giliran Pura Batu Medawu giliran melaksanakan upacara, berganti dengan dengan Pura Penataran Ped guna mempererat kebersamaan krama adat dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan kebudayaan.

Ketua Panitia Ngusaba Madya Jagat, Mangku I Wayan Dunia, menyampaikan rangkaian upacara diawali dengan prosesi matur piuning, nancep taring, maguru piduka, nuesan karya, hingga molongin sunari.

Berlanjut dengan nuur tirta pamuket, melaspas tetangunan, serta tahapan Ida Bhatara Turun Kabeh pada Wraspati Wage berupa melasti, memasar, dan memendak Siwi.

“Puncak karya Ngusaba Madya Jagat  pada Purnama Kapat, Sabtu (26/9/2026),” terang Mangku I Wayan Dunia, Jumat (25/9/2026).

Pengayah dari para serati serta ayah-ayahan utusan desa adat dari wilayah Dangin Bantas (kawasan timur Nusa Penida).

“Sabtu besok,  dilakansanakan Taur Madya, Mapadanan, Nangluk Merana, Mapekelem Madya Segara, serta Pawitenan sebagai ritual penyucian dan permohonan keseimbangan alam,” imbuhnya.

Nyepi Segara: Memberi Ruang bagi Laut untuk Beristirahat

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian Ngusaba Madya Jagat, pada Minggu (27/9/2026)—sehari setelah puncak karya—masyarakat Nusa Penida akan melaksanakan tradisi Nyepi Segara.

Selama pelaksanaan Nyepi Segara, seluruh aktivitas bahari di kawasan perairan Nusa Penida dihentikan total selama 24 jam.

Para nelayan, pelaku penyeberangan kapal, pedagang, hingga penyedia aktivitas pariwisata bahari secara kolektif menghentikan operasional mereka untuk memberikan jeda dan waktu bagi samudra memulihkan dirinya.

Sementara Ketua Umum Pura Batumedawu, I Made Wijaya, menegaskan bahwa Ngusaba Madya Jagat dan Nyepi Segara tidak hanya bernilai ritual keagamaan, tetapi juga menyimpan ruang kebudayaan dan refleksi kosmis yang mendalam bagi masyarakat kepulauan.

“Ketika laut berhenti, manusia mendengar kembali suara kosmos. Tradisi ini menghadirkan jeda di tengah tingginya mobilitas modern dan aktivitas ekonomi yang bergerak tanpa henti,” ungkap I Made Wijaya.

Pesan Ekologis di Tengah Modernisasi Pariwisata

Dalam perspektif kosmologi Bali—Tri Hita Karana—tradisi penghentian aktivitas laut ini dibaca sebagai pesan ekologis yang sangat relevan. Di tengah pesatnya pertumbuhan Nusa Penida sebagai destinasi pariwisata dunia, Nyepi Segara mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi (parhyangan, pawongan, palemahan) dengan pelestarian lingkungan.

Keheningan laut selama satu hari penuh menjadi simbol penghormatan manusia terhadap samudra yang selama ini menjadi sumber kehidupan, jalur mobilitas, dan penopang ekonomi krama Nusa Penida. (San-Kab).

kabar Lainnya