

DENPASAR, KABARBALI.ID – Prosesi sakral penancapan keris oleh Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama para penglingsir puri se-Kota Denpasar menandai puncak peringatan 120 tahun peristiwa bersejarah Puputan Badung. Kegiatan berlangsung khidmat di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9/2026) malam.
Puncak peringatan tahun ini dikemas melalui Apel Penghormatan dan pementasan Karya Mahabandana Puputan Badung bertajuk ‘Mati Tan Pumut Pejah’, menggemakan kembali nilai keberanian Raja dan rakyat Badung saat menghadapi gempuran kolonial Belanda pada 20 September 1906 silam.
Acara tersebut dihadiri Wakil Wali Kota I Kadek Agus Arya Wibawa, Wakil Ketua DPRD Denpasar, Sekda I Gusti Ngurah Eddy Mulia, unsur Forkopimda, LVRI Kota Denpasar, serta jajaran pimpinan OPD Pemkot Denpasar.
Rangkaian peringatan diawali dengan pembacaan sejarah singkat Puputan Badung. Selanjutnya, Penglingsir Puri Denpasar, Dr. A.A. Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, mewakili Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan, membacakan mandat perjuangan.
“Hari ini kita hadir untuk memperingati sejarah perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa, khususnya Raja dan rakyat Badung tahun 1906. Ini bukan hanya pertempuran, melainkan simbol tekad dan semangat juang masyarakat Bali dalam mempertahankan keadilan dan kehormatan,” ungkap Wira Bima Wikrama.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menegaskan bahwa peringatan Puputan Badung yang digelar saban 20 September merupakan pengingat bagi seluruh warga kota akan jiwa patriotisme para leluhur.
Peristiwa heroik 120 tahun silam di bawah kepemimpinan Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung menunjukkan keteguhan tekad berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela tanah air.
“Momentum ini diperingati sebagai tanda bahwa kita adalah bangsa besar yang tidak pernah melupakan sejarah. Pengorbanan nyawa para pahlawan yang gugur wajib senantiasa kita kenang dan hormati,” tegas Jaya Negara.
Lebih lanjut, Jaya Negara berharap nilai-nilai kepahlawanan Mati Tan Pumut Pejah tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan semata. Nilai historis tersebut harus ditransformasikan menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun Kota Denpasar.
“Nilai kepahlawanan para pejuang harus diwariskan kepada generasi muda sebagai cermin refleksi diri. Ini menjadi inspirasi untuk bergerak bersama membangun Denpasar yang lebih maju, serta menjaga persatuan dan jati diri budaya Bali di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (Irw-Kab).