GIANYAR, KABARBALI.ID – Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di kawasan pariwisata internasional Ubud, Kabupaten Gianyar, seolah tidak ada kapoknya. Meski sudah berkali-kali ditertibkan dan dipulangkan ke daerah asalnya di Kabupaten Karangasem, para gepeng ini terus kembali dengan strategi kucing-kucingan guna mengelabui petugas di lapangan.
Paling baru, tim gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Gianyar bersama Pecalang Desa Adat Ubud menggelar operasi senyap pada Senin (5/7/2026) malam. Langkah represif ini berhasil mengamankan 14 orang gepeng yang tengah beraksi meminta-minta dengan menyasar para wisatawan asing maupun domestik yang sedang menikmati malam di Ubud.
Dari belasan warga yang terjaring dalam operasi penegakan perda tersebut, pelakunya didominasi oleh kelompok rentan. Petugas mencatat ada 9 orang perempuan dewasa dan 5 orang anak-anak. Di internal Satpol PP Gianyar sendiri, pergerakan kelompok gepeng ini kerap diidentifikasi dengan kode sandi khusus “Semut Merah”.
Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Gianyar, I Putu Yudanegara, membenarkan adanya pengamanan belasan warga asal Karangasem tersebut. Ia menyayangkan aksi meminta-minta ini marak terjadi di pusat pariwisata yang tengah padat dikunjungi pelancong mancanegara.
“Mereka meminta-minta di Ubud, terkadang menyasar wisatawan yang sedang liburan menikmati indahnya kawasan Ubud. Tindakan ini jelas mengganggu kenyamanan pariwisata kita,” ujar Putu Yudanegara, Rabu (8/7).
Yudanegara menambahkan, aktivitas jalanan yang dilakukan belasan warga tersebut secara hukum telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Gianyar Nomor 15 Tahun 2015 tentang Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat.
Usai diciduk dari beberapa titik jalanan di Ubud, seluruh gepeng langsung digelandang ke Kantor Satpol PP Gianyar di bawah pengawalan ketat petugas untuk menjalani proses pendataan serta pembinaan berkala. Pasca-pembinaan, mereka langsung diserahterimakan ke Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gianyar untuk dipulangkan secara resmi ke kampung halaman mereka di Karangasem. (Tut-Kab).