KARANGASEM, KABARBALI.ID – Aktivitas pendakian di Gunung Agung kembali memakan korban jiwa. Seorang pendaki asal Kabupaten Tabanan bernama I Gusti Agung ES (45), dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami kelelahan hebat hingga tidak sadarkan diri di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Sabtu (18/7/2026).
Korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan melalui jalur pendakian Pura Pasar Agung, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir saat mendapat penanganan medis.
Peristiwa tragis ini bermula saat I Gusti Agung ES melakukan pendakian ke puncak tertinggi di Bali tersebut bersama beberapa rekannya pada Sabtu siang sekitar pukul 12.00 WITA. Rombongan memilih titik awal pendakian dari jalur suci Pasar Agung, Selat.
Namun, setelah menempuh perjalanan berat selama beberapa jam dan mencapai elevasi sekitar 2.200 mdpl, kondisi fisik korban mendadak drop.
Korban diduga mengalami kelelahan ekstrem hingga limbung dan jatuh pingsan di tengah jalur pendakian. Rekan-rekan korban yang panik segera menghubungi pihak berwenang untuk meminta bantuan darurat.
Menerima laporan adanya pendaki yang tidak sadarkan diri di lokasi yang cukup tinggi, Tim SAR gabungan langsung bergerak cepat menuju titik koordinat korban.
Koordinator Pos SAR Karangasem, I Putu Handika Bhayangkara, mengatakan setelah melalui proses evakuasi medan terjal yang cukup menguras waktu, korban akhirnya berhasil dibawa turun ke pos bawah.
“Benar, kami telah selesai melakukan evakuasi. Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Selat untuk menjalani penanganan medis karena kondisinya sama sekali tidak sadarkan diri,” jelas Putu Handika Bhayangkara.
Setibanya di fasilitas kesehatan, tim medis Puskesmas Selat langsung mengambil tindakan darurat untuk memulihkan kesadaran korban. Namun, beberapa menit berselang saat pemeriksaan lanjutan, I Gusti Agung ES dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Puskesmas Selat, Sudarba, mengonfirmasi bahwa nyawa korban tidak dapat diselamatkan meski upaya penanganan terbaik sudah diberikan. Sudarba menduga, korban memaksakan diri melakukan pendakian dalam kondisi fisik yang kurang prima sehingga memicu kelelahan berat (fatigue).
“Pendaki tersebut meninggal dunia dan jenazahnya telah dibawa ke RSUD Tabanan. Kondisi kelelahan berat itu diduga kuat memicu gangguan atau gagal jantung mendadak hingga menyebabkan korban meninggal dunia,” terang Sudarba, Minggu (19/7/2026). (Kri-Kab).