KABARBALI.ID – Umat Hindu di Bali besok merayakan Rahina Suci Purnama Karo yang jatuh pada Buda Paing Warigadean, Rabu (29/7/2026). Purnama yang bertepatan dengan sasih karo (bulan kedua dalam penanggalan Saka) ini merupakan momentum spiritual penting untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta melakukan penyucian diri secara lahir dan batin (mahening ajnana).
Secara teologis, perayaan Purnama dirayakan sebulan sekali saat bulan penuh (sukla paksa). Dalam sastra agama, khususnya Lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa hari Purnama merupakan payogan atau stana meditasi dari Sang Hyang Candra (Sang Hyang Ulan) sebagai manifestasi penerang kegelapan alam semesta.
Petikan Lontar Sundarigama menyebutkan:
“Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.”
Artinya: Ada lagi hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat Tilem dan Purnama. Saat Purnama adalah payogan Sang Hyang Wulan (Candra), sedangkan saat Tilem adalah payogan Sang Hyang Surya.
Lebih lanjut, Lontar Sundarigama menguraikan kewajiban seluruh lapisan masyarakat—mulai dari para purohita (sulinggih) hingga umat awam—untuk menyucikan pikiran dan perbuatan pada hari suci ini.
Umat diimbau untuk mempersembahkan wangi-wangi dan canang yasa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestsasi-Nya di Sanggah, Merajan, maupun Parahyangan/Pura. Prosesi dilanjutkan dengan pemujaan dan memohon air suci (tirta gocara) serta menggunakan puspa wangi (bunga harum).
Selain aspek spiritual, Sasih Karo juga menandai fase pergantian musim dalam siklus alam Bali, sehingga persembahyangan Purnama Karo menjadi simbol harmonisasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan Sang Pencipta (parahyangan).
Tepat pada Rahina Purnama Karo, Rabu 29 Juli 2026, sejumlah Pura Dang Kahyangan dan Pura Kahyangan Jagat di Bali menggelar puncak upacara piodalan maupun Karya Aci-aci, di antaranya:
Pura Gelap Besakih (Karangasem): Puncak Karya Aci-aci Pengenteg Jagat yang diampu oleh Pemkab Klungkung.
Pura Dangkahyangan Pengukur-ukur (Pejeng, Gianyar): Puncak Upacara Piodalan/Karya Sakral.
Pura Ponjok Batu (Tejakula, Buleleng): Puncak Upacara Piodalan.
Pura Candi Goro (Tianyar, Kubu, Karangasem): Puncak Upacara Piodalan.
Merajan Griya Kebon (Tabanan): Puncak Upacara Piodalan.
Umat Hindu diimbau untuk menjaga ketertiban, kebersihan, serta rasa visuddha (kesucian) saat bersembahyang ke pura-pura tersebut maupun di pemerajan masing-masing. (Pur-Kab).