KABARBALI.ID – Dalam perhitungan kalender tradisional Bali maupun Jawa, setiap weton atau otonan dinaungi oleh Lintang (bintang kelahiran) tertentu yang dipercaya membentuk alur kehidupan seseorang. Bagi mereka yang lahir pada Jumat Paing, bintang yang menaungi adalah Lintang Bubu Bolong.
Di satu sisi, kelahiran ini membawa sederet sifat positif nan anggun. Namun di sisi lain, bayang-bayang tantangan hidup terkait finansial dan kesehatan kerap mengintai jika tidak diimbangi dengan netralisasi spiritual.
Seseorang yang lahir di bawah naungan Lintang Bubu Bolong umumnya dianugerahi kemampuan berkomunikasi yang baik (ramah dan pintar berbicara), bersikap jujur, pemberani, serta memiliki cita-cita dan angan-angan yang mulia.
Tak heran, sosok ini kerap disukai oleh para tetua, akademisi, hingga orang-orang bijak (wong agung).
Meskipun memiliki karakter berbudi halus, Lintang Bubu Bolong menyimpan tantangan tersendiri yang sering disadari setelah dinamika hidup terjadi. Berdasarkan catatan wariga, rezeki kelahiran ini memang terbilang mudah didapat, tetapi sangat cepat habis hingga memicu siklus “gali lobang tutup lobang”.
Tak sedikit dari mereka yang mengalami kebangkrutan di tengah jalan saat mengelola usaha, dinamika emosi yang naik-turun, keretakan hubungan keluarga, hingga rentan mengalami penurunan kondisi kesehatan atau sakit keras di usia pertengahan (tengah umur).
Sering kali, faktor gengsi atau anggapan bahwa tradisi kuno tidak lagi relevan membuat seseorang mengabaikan sinyal-sinyal spiritual ini, hingga akhirnya dampak kebangkrutan atau masalah hidup terlanjur membesar.
Pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati” sangat berlaku dalam tradisi padewasan Bali. Untuk menetralkan dampak negatif (alasan/ala) dari Lintang Bubu Bolong, tetua adat mengimbau agar krama atau keluarga yang memiliki otonan Jumat Paing melaksanakan upacara Penebusan atau Mebayuh Oton.
Upacara penebusan ini bertujuan untuk memohon keselamatan (dirgayusa), menyelaraskan energi emosional, serta memohon jalan terang agar pintu rezeki kembali terbuka dan stabil.
Bagi yang sudah terlanjur mengalami fase sulit, tidak ada kata terlambat untuk berbenah. Melakukan ritual pembersihan batin (melukat) dan ngaturan banten penebusan menjadi ikhtiar spiritual untuk memulihkan keharmonisan hidup, baik secara personal, keluarga, maupun finansial. (Kab).