Sudah Ada 46 Font Digital ! Putri Koster lan Pakar Kupas Pelestarian Aksara Bali di Gedung Kertha Sabha

Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026).

DENPASAR, KABARBALI.ID – Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mempelajari, menggunakan, lan memelihara bahasa, aksara, serta sastra Bali sebagai jati diri peradaban daerah.

Penegasan tersebut disampaikannya saat membuka Seminar Aksara Kawi dan Bali bertajuk “Nyastra” yang berlangsung di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026).

Putri Koster menekankan bahwa keberadaan aksara merupakan salah satu penanda utama tingginya peradaban suatu suku bangsa. Masyarakat Bali sepatutnya bersyukur lan bangga karena memiliki aksara sendiri yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri,” ujar Putri Koster, Kamis (10/9/2026).

Bukan Cukup Regulasi, Perlu Kesadaran  

Menurut Putri Koster, upaya pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Kesadaran aktif lan konsistensi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci utama agar warisan leluhur ini tidak tergerus zaman.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah memperkuat pelindungan budaya ini melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

“Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan seperti Seminar “Nyastra” mampu melahirkan karya nyata seperti penerbitan buku lan karya literasi lainnya yang bermanfaat bagi generasi muda.

46 Font Aksara Bali Telah Dikembangkan

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Wayan Sila Sayana, menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital justru membuka peluang baru dalam pengembangan aksara Kawi lan Bali.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 46 jenis font aksara Bali telah berhasil dikembangkan oleh para perancang huruf dari dalam maupun luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan sarana untuk memperluas ruang adaptasi aksara tradisional di era modern.

Seminar “Nyastra” tersebut turut menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa yang memaparkan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara”, serta I Made Suatjana (kreator Bali Simbar) yang membawakan materi “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar”. (Rls-Kab).

kabar Lainnya