Wacana Mandek 10 Tahun, DPRD Bangli Desak Pemkab Segera Tempatkan Armada Damkar di Kintamani

Damkar Bangli saat mengatasi kebakaran hutan di Kintamani. foto istimewa/kabarbali.id

BANGLI, KABARBALI.ID  Wacana penempatan armada Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kecamatan Kintamani sejatinya telah berembus sejak sepuluh tahun lalu. Namun, hingga kini penyiagaan pos dan armada di wilayah berudara sejuk itu belum kunjung terealisasi.

Padahal, potensi insiden kebakaran di Kintamani tergolong cukup tinggi. Catatan menunjukkan, sejak Agustus hingga pertengahan September 2026 saja, telah terjadi sedikitnya empat kasus kebakaran di kawasan tersebut.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Kabupaten Bangli, Made Sudiasa.

Saat dikonfirmasi pada Jumat (18/9/2026), politisi Partai Demokrat ini menegaskan bahwa penempatan armada Damkar di Kintamani sudah berada pada taraf sangat mendesak (urgent).

“Wilayah Kintamani yang memiliki kawasan hutan luas sangat rentan terbakar saat musim kemarau. Sering sekali terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kintamani,” jelas politisi asal Tembuku ini.

Terkendala Jarak – Sulit Penuhi SOP  15 Menit

Selain faktor kerawanan karhutla, tantangan terbesar penanganan kebakaran di Kintamani terletak pada faktor jarak tempuh.

Sejauh ini, markas komando (basecamp) armada Damkar Bangli masih terpusat di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli.

Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi tidak maksimal apabila insiden kebakaran terjadi di wilayah Kintamani yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buleleng.

“Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Permendagri, waktu tanggap (response time) petugas pemadam kebakaran untuk tiba di lokasi kejadian adalah maksimal 15 menit. Dengan jarak Mako di Kubu ke Kintamani, tentu SOP tersebut tidak akan bisa berjalan,” tegasnya.

Solusi Pembagian Armada di Tengah Keterbatasan

Menanggapi keterbatasan personil maupun unit armada yang kerap menjadi kendala Pemkab Bangli, Made Sudiasa mendorong adanya solusi taktis berupa pembagian pemetaan unit.

Ia menyarankan agar pemerintah daerah menyiasati keterbatasan tersebut dengan mendistribusikan unit yang ada secara proporsional demi menjangkau area rawan bencana.

“Semisal ada tiga unit armada, dua armada disiagakan di pusat Kota Bangli dan satu armada ditempatkan di Kintamani. Ini solusi agar penanganan kebakaran di Kintamani bisa lebih cepat dan meminimalisir kerugian warga,” pungkas Sudiasa. (Sam-Kab).

kabar Lainnya