DENPASAR, KABARBALI.ID – Sebuah kepedihan mendalam menyelimuti dunia anak-anak dan kebudayaan Bali. Tepat pada momentum peringatan Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026) dini hari, maestro dongeng dan tradisi tutur Bali yang akrab disapa “Kakek Guru”, I Made Taro, menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang di usia 87 tahun usai menjalani perawatan di RS Bali Mandara.
Kepergian sosok penutur kisah legendaris ini tepat di hari perayaan anak-anak seolah menjadi penanda abadi atas pengabdian tulusnya yang tak pernah putus selama lebih dari setengah abad bagi generasi muda Indonesia, khususnya di Tanah Dewata.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga. Menantu almarhum, Made Maharini, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Made Taro mulai menurun akibat keluhan perut kembung yang berkembang menjadi komplikasi pernapasan hingga harus dirawat di ruang ICU.
Pihak keluarga memohon keikhlasan doa dari seluruh lapisan masyarakat dan para sahabat tercinta almarhum agar prosesi menuju peristirahatan terakhir berjalan lancar. “Mohon doa teman-teman semua, dumogi beliau amor ing acintya,” ungkap perwakilan keluarga.
Saat ini, jenazah Kakek Guru Made Taro disemayamkan di Rumah Duka RS Dharma Yadnya, Tohpati, Denpasar Timur. Pihak keluarga membuka kesempatan bagi masyarakat, sahabat, dan murid-murid almarhum yang ingin memberikan penghormatan terakhir dengan jadwal sebagai berikut:
Jadwal Melayat: Jumat & Sabtu, 24 & 25 Juli 2026 (Mulai Pukul 11.00 WITA)
Lokasi Rumah Duka: RS Dharma Yadnya, Tohpati, Denpasar Timur
Upacara Ngaben: Minggu, 26 Juli 2026 (Mulai Pukul 09.00 WITA)
Lokasi Kremasi: Krematorium Punduk Dawa, Klungkung
Bagi masyarakat Bali, Made Taro bukan sekadar pendongeng, melainkan seorang “Kakek Guru” yang mendedikasikan hidupnya merawat cerita rakyat, dolanan (permainan tradisional), hingga gending rare melalui Sanggar Kukuruyuk yang didirikannya sejak tahun 1979.
Almarhum yang lahir di Karangasem pada 1939 silam ini senantiasa memandang dunia anak sebagai cermin ketulusan. Berbagai karya buku penting telah ia lahirkan, seperti Seni Tutur Sang Penolong, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng, hingga Dongengku Cerminku. Dedikasi panjangnya mengantarkan almarhum meraih berbagai penghargaan nasional hingga internasional, mulai dari Anugerah Sastra Rancage, Widya Pataka, hingga diundang mendongeng di Australia, Singapura, dan Afrika Selatan.
Kini sang Kakek Guru telah berpulang dengan tenang, namun tutur manis dan kehangatan dongengnya akan terus bersemi di hati anak-anak Bali dari generasi ke generasi. (Pur-Kab).