Isu Rabies Sensitif bagi Pariwisata, DPRD Bangli Minta Vaksinasi Hewan Tidak “Hangat-Hangat Tahi Ayam”

Ilustasi gigitan anjing rabies.

BANGLI, KABARBALI.ID – Kasus gigitan anjing diduga rabies yang menimpa seorang wisatawan mancanegara (WNA) asal Cina menjadi alarm keras bagi industri pariwisata di Kabupaten Bangli. Munculnya insiden ini dinilai berpotensi merusak citra daerah yang selama ini mengandalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Ketua DPRD Bangli, I Ketut Suastika, menyatakan bahwa isu penularan virus rabies sangat sensitif di mata dunia internasional. Ia mengkhawatirkan dampak berantai dari kasus ini jika tidak segera ditangani secara taktis oleh pemerintah daerah.

“Justru yang kami takutkan dari kasus ini akan berkembang yang berujung kalau Bangli tidak layak dikunjungi karena ancaman rabies,” ujar Ketut Suastika, Rabu (15/7/2026).

Politisi PDI-P ini berharap kasus gigitan terhadap turis asing tersebut tidak sampai memicu keluarnya peringatan perjalanan (travel warning) dari negara asal wisatawan ke Bali, khususnya Bangli. Jika hal tersebut sampai terjadi, keberlangsungan ekosistem pariwisata Bangli dipastikan akan terpukul hebat.

Guna mengantisipasi dampak buruk yang lebih luas, Suastika mendesak Pemkab Bangli melalui instansi terkait segera mengambil langkah konkret. Ia menyoroti kinerja Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli selaku penanggung jawab sektor Hewan Penular Rabies (HPR).

Ia mengingatkan agar upaya pencegahan dan penanggulangan di hulu tidak bersifat momentum atau musiman semata.

“Dalam upaya mengantisipasi penyebaran rabies, vaksinasi dan eliminasi perlu ditingkatkan. Jangan sampai kegiatan tersebut terkesan hangat-hangat tahi ayam, yang mana vaksinasi dan eliminasi baru digencarkan ketika terjadi kasus,” tegas Suastika.

Di sisi hilir, Suastika juga menyoroti ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) bagi manusia. Dirinya menyayangkan fakta bahwa korban WNA Cina tersebut sempat kesulitan mendapatkan VAR karena tidak tersedianya stok vaksin di RSUD Bangli sebagai pusat layanan kesehatan daerah.

Meskipun saat ini VAR memang telah disebar di beberapa Puskesmas, ia menilai RSUD Bangli wajib memiliki stok siaga sebagai sentral pelayanan medis darurat, terlebih bagi wisatawan.

“Berkaca dari WNA yang tidak dapat VAR di RSUD Bangli, tentu ini akan menjadi preseden buruk di mata wisatawan. Rumah sakit umum daerah sebagai sentral pelayanan juga harus menyediakan VAR demi menjaga keselamatan warga dan pelancong,” pungkasnya. (Sam-Kab).

Amor Ing Acintya, Balita 4 Tahun di Songan Bangli Tewas Akibat Serangan Anjing

kabar Lainnya