BADUNG, KABARBALI.ID – Momentum Hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu menjadi pengingat akan kekuatan dan emansipasi perempuan Indonesia.
Di Bali, salah satu sosok yang merepresentasikan semangat tersebut adalah Ni Luh Putu Andiyani, A.Md IP, S.H, M.H, yang kini menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Kerobokan.
Sejak menakhodai Lapas Perempuan Kerobokan pada November 2022, perempuan kelahiran 20 Juni 1976 ini terus konsisten membawa perubahan signifikan, terutama dalam meningkatkan kualitas pembinaan bagi warga binaan.
Menjadi pimpinan di institusi pemasyarakatan bukanlah perkara mudah. Andiyani dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga keamanan dan ketertiban di tengah berbagai keterbatasan. Namun, baginya, jabatan ini adalah sebuah pengabdian.
“Tantangannya adalah bagaimana memastikan pembinaan berjalan optimal. Tapi kebahagiaan terbesar saya adalah saat melihat warga binaan mengalami perubahan positif, menjadi lebih mandiri, dan siap kembali ke masyarakat,” ungkap Andiyani, kepada kabarbali.id, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, semangat Kartini adalah pengingat bahwa perempuan mampu memimpin dengan kuat namun tetap penuh empati. Pendekatan humanis inilah yang ia terapkan dalam membimbing para warga binaan agar memiliki masa depan yang lebih baik.
Di balik ketegasannya sebagai Kalapas, Andiyani adalah seorang istri dari Drs. Wayan Kujus Pawitra, S.Sos.MAP, (Sekwan DPRD Gianyar) dan ibu dari satu orang anak. Membagi waktu antara tugas negara dan keluarga diakuinya sebagai tantangan tersendiri yang menuntut manajemen waktu yang mumpuni.
“Kuncinya adalah komunikasi terbuka dengan keluarga. Meski sibuk, waktu berkualitas tetap diupayakan. Dukungan keluarga adalah faktor terpenting yang memberi saya semangat menjalankan tanggung jawab sehari-hari,” tuturnya.
Di usianya yang menginjak 49 tahun, Ni Luh Putu Andiyani membuktikan bahwa batasan gender bukan halangan untuk menduduki posisi strategis dan membawa perubahan nyata bagi lingkungan sekitar.
Profil Singkat